Sabtu, 08 Agustus 2009

Taman Sari

Salah satu obyek wisata yang ada di Yogyakarta terutama yang terletak di lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah Tamansari. Tamansari di bangun sejak Sultan Hamengku Buwana I, pendiri Kraton Ngayogyakarta dan lanjutkan oleh penggantinya, yaitu Sultan Hamengku Buwana II. Kraton Ngayogyakarta yang didirikan tahun 1755 setelah perjanjian Giyanti, Mataram di pecah menjadi dua, Kartasura dan Ngayogyakarta. Setelah itu, setidaknya di Jawa ada dua kerajaan, yang disebut sebagai Pakubuwanan dan Kasltanan. Tamansari berada di wilayah Kasultanan, yang terletak di dalam beteng Kraton Ngayogyakarta. Taman Sari - Yogyakarta yang tidak hanya sekedar Taman tempat rekreasi keluarga kerajaan dizaman itu, namun mempunyai berbagai fungsi diantaranya sebagai Camouflage area terhadap musuh-musuhnya, dan merupakan suatu sistem benteng pertahanan, selain itu juga sebagai tempat meditasi bagi Raja, tempat membuat batik yang dilakukan oleh selir-selir Raja dan putri-putri Raja, tempat berlatih kemiliteran bagi tentara kerajaan dan masih ada lagi. Ada beberapa elemen yang mempengaruhi arsitektur bangunan kompleks Taman Sari ini, diantaranya pengaruh dari Hindu dan Budha, Jawa dan Islam, Cina, Portugis dan gaya Eropa, dapat terlihat dibeberapa bagian bangunan ini.

Selasa, 04 Agustus 2009

Borobudur

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat Mahayana. bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas